Home Uncategorized Korban Kecelakaan Mobil Tak Bisa Dipaksa Sembuh, Begini Cara Mengatasi Trauma Menurut...

Korban Kecelakaan Mobil Tak Bisa Dipaksa Sembuh, Begini Cara Mengatasi Trauma Menurut Psikolog

1


Korban Kecelakaan Mobil Tak Bisa Dipaksa Sembuh! Begini Cara Mengatasi Trauma Menurut Psikolog
ilustrasi gangguan akibat kecelakaan kereta.(dok.Medcom)

KORBAN kecelakaan kereta api yang mengalami trauma psikologis perlu menjalani proses pemulihan secara bertahap agar dapat kembali beraktivitas tanpa memicu kecemasan berlebihan.

Guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog mengatakan rasa takut terhadap kereta atau situasi yang berkaitan dengan kecelakaan merupakan respons yang wajar, namun perlu diatasi melalui pendekatan yang terstruktur.

“Jika seseorang merasa takut dengan kereta, maka bisa dilakukan secara bertahap melalui exposure. Tidak langsung dihadapkan pada situasi yang memicu ketakutan,” kata Romi pada Selasa (28/4).

Ia menjelaskan, tahap awal dapat dimulai dari hal sederhana, seperti melihat gambar kereta tanpa suara untuk membangun toleransi terhadap stimulus yang memicu trauma.

Selanjutnya, korban dapat meningkatkan paparan secara perlahan, misalnya dengan melewati area stasiun atau mendengarkan suara kereta dari jarak tertentu sebelum akhirnya kembali berada di dalam lingkungan tersebut.

Menurut dia, pendekatan bertahap ini bertujuan melatih otak agar mampu beradaptasi kembali dengan situasi yang sebelumnya memicu rasa takut. Proses ini juga membantu mengurangi respons kecemasan secara perlahan.

Romi menambahkan, korban tidak dianjurkan untuk memaksakan diri kembali ke situasi pemicu dalam waktu singkat karena berisiko memperparah kondisi psikologis.

Di sisi lain, ia juga mengingatkan bahwa menghindari sepenuhnya stimulus yang berkaitan dengan trauma dalam jangka panjang dapat menghambat proses pemulihan.

Kecelakaan kereta api di wilayah Bekasi sebelumnya menyebabkan sejumlah korban mengalami luka fisik dan tekanan psikologis. Bagi sebagian korban, keterbatasan pilihan transportasi membuat mereka tetap harus menggunakan kereta dalam aktivitas sehari-hari.

Kondisi tersebut menuntut adanya strategi pemulihan yang realistis dan dapat diterapkan secara bertahap, sehingga korban tetap dapat menjalankan aktivitas tanpa mengabaikan kondisi kesehatan mental.

Romi menekankan bahwa proses pemulihan membutuhkan waktu dan konsistensi, serta dukungan dari lingkungan sekitar agar korban dapat kembali merasa aman dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Dukungan keluarga

Dukungan keluarga dinilai menjadi faktor penting dalam membantu pemulihan psikologis korban kecelakaan kereta api, terutama ketika trauma berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama.

Romi menjelaskan, peran keluarga sangat dibutuhkan dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi korban untuk menjalani proses pemulihan secara bertahap.

Menurut dia, keluarga perlu menghindari sikap yang menyudutkan korban, termasuk pernyataan yang menuntut korban untuk segera pulih atau membandingkan kondisinya dengan orang lain.

“Pengalaman traumatis itu dialami langsung oleh korban, bukan oleh orang di sekitarnya. Karena itu, penting untuk memberi waktu bagi korban agar bisa pulih,” ujarnya.

Romi menambahkan, korban perlu diberi ruang untuk menenangkan diri sekaligus kesempatan untuk bercerita ketika sudah merasa siap.

Namun, ia mengingatkan agar keluarga tidak memaksa korban mengulang-ulang cerita kejadian secara rinci karena hal tersebut dapat memicu kembali rasa tidak nyaman.

Selain itu, penting bagi keluarga untuk memahami batas dalam memberikan dukungan, termasuk kapan harus mendampingi dan kapan memberi waktu bagi korban untuk sendiri.

Romi menekankan bahwa pemulihan trauma membutuhkan waktu, dukungan lingkungan, serta penanganan yang tepat agar korban dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari secara normal.

“Jika kondisi trauma berlangsung lebih dari dua hingga empat minggu, korban sebaiknya mendapatkan bantuan profesional,” pungkas Romi. (Ant/P-3)



Source link