
Ilustrasi(Dokter Luar Biasa)
TOMAT merupakan buah yang jarang jadi sorotan utama di meja makan. Biasanya hanya dibuat hiasan atau sampingan kombinasi makanan. Padahal, buah merah ini punya kombinasi yang menarik untuk pencernaan.
Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), sembelit umumnya membaik bila seseorang cukup makan serat dan minum cairan yang cukup.
Sementara itu, data USDA SNAP-Ed menunjukkan satu tomat ukuran sedang mengandung sekitar 2 gram serat dan hanya 22 kalori
Menambahkan Manfaat Serat Harian
Tomat untuk sembelit adalah membantu menambah asupan serat. NIDDK menyebut orang dewasa umumnya membutuhkan 22 hingga 34 gram serat per hari, tergantung usia dan jenis kelamin. Serat membantu feses bergerak lebih lancar di usus.
Membantu Feses Lebih Lunak
NIDDK juga menjelaskan bahwa serat bekerja lebih baik jika dibarengi cukup cairan. Saat tubuh mendapat cukup minum, feses menjadi lebih lunak dan lebih mudah dikeluarkan.
Karena itu, tomat bisa menjadi bagian sederhana dari pola makan yang ramah untuk sembelit.
Ringan untuk Dimakan Setiap Hari
Tomat rendah kalori dan nyaris tanpa lemak maupun kolesterol. USDA SNAP-Ed mencatat satu tomat sedang mengandung 0 gram lemak, 0 mg kolesterol, dan 2 gram serat.
Hal ini membuat tomat mudah dimasukkan ke dalam menu sehari-hari tanpa terasa berat.
Kaya Zat Bioaktif
PubMed Central menyebut tomat mengandung senyawa bioaktif seperti likopen, karotenoid, fenolik, dan flavonoid. Senyawa ini dikenal punya aktivitas antioksidan dan antiinflamasi.
Artinya, tomat bukan hanya sumber serat, tetapi juga punya nilai gizi yang baik untuk pola makan sehari-hari.
Tetap Berguna Meski Dimasak
Masih dari ulasan ilmiah yang sama, kandungan bioaktif tomat umumnya tidak banyak berkurang dalam proses memasak rutin.
Karena itu, tomat tetap mudah dikonsumsi dalam bentuk salad, saus, sup, atau olahan harian lain. Fleksibilitas ini membuat tomat lebih mudah dipertahankan sebagai bagian dari diet tinggi serat.
Meski begitu, tomat bukan obat sembelit. NIDDK menegaskan bahwa sembelit yang tak membaik tetap perlu dievaluasi tenaga kesehatan, terutama bila berlangsung lama atau disertai keluhan lain. (Chatrine Simanjuntak/E-4)

