
Vaksin campak. (ANTARA)
MENINGGALNYA dokter peserta Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) di Cianjur, Jawa Barat akibat campak menandakan perlunya perlindungan bagi tenaga kesehatan dari penyakit menular. Salah satu upaya yang bisa dilakukan yakni memberikan vaksin campak pada orang dewasa khususnya tenaga kesehatan (nakes).
Sayangnya saat ini program vaksinasi campak dari pemerintah hanya tersedia untuk anak usia 9 bulan hingga 15 tahun. Sementara program untuk orang dewasa atau nakes belum ada.
“Kalau saya tidak salah informasi vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella) bisa diberikan pada orang dewasa. Tetapi memang tidak diadopsi ke dalam satu program yang sifatnya nasional. Jadi kalau mau imunisasi pada dewasa, silahkan bisa dicari di fasilitas kesehatan baik swasta maupun pemerintah untuk vaksin campak dewasa cuma memang harus berbayar sendiri,” kata Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan, Indri Yogyaswari, dalam webinar Medicine UI, Rabu (1/4).
Ia mengatakan pemberian vaksin campak pada orang dewasa ada 2 dosis dengan interval minimal 28 hari. “Untuk harga, bervariasi yang kami dapat, ada yang bisa sampai Rp700 ribu per satu dosis, ada yang kemarin teman itu bisa mencari sekitar Rp350 ribu per dosis,” ungkapnya.
Diketahui Kementerian Kesehatan belum menyediakan vaksin MR untuk dewasa karena vaksin MR diberi izin edar oleh Badan POM untuk usia 9 bulan sampai dengan 15 tahun dan belum pada usia dewasa.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menegaskan vaksinasi campak untuk orang dewasa atau nakes butuh studi efikasi dari Badan POM. “Jadi vaksinasi ini yang paling penting kan sebenarnya surat indikasinya. Itu kan untuk anak-anak, tapi sebenarnya ada studinya untuk orang dewasa. Kita minta klarifikasi dari Badan POM dulu bahwa vaksinasi ini memang ada studi efikasinya untuk orang dewasa,” kata Dante.
Jika sudah mendapat surat klarifikasi maka akan langsung diselenggarakan vaksinasi campak untuk para nakes, tenaga medis, dan dokter yang mempunyai potensi tinggi tertular. Pemerintah juga bisa memilih 10 daerah prioritas agar nakesnya bisa diberikan vaksin campak.
KONSISTEN IMUNISASI
Anggota Komisi IX DPR RI Sri Meliyana meminta pemerintah menjaga konsistensi imunisasi sebagai benteng utama perlindungan kesehatan anak. Munculnya kembali kasus campak dinilainya tidak dapat dilepaskan dari melemahnya tingkat imunisasi di sejumlah wilayah.
“Ketika kita mendengar 32 provinsi mengalami penurunan tingkat imunisasi, ini menjadi peringatan bagi kita semua. Hari ini kita menghadapi campak,” kata Sri Meliyana.
Menurutnya, imunisasi bukan sekadar program rutin, melainkan sistem perlindungan yang harus dijaga secara berkelanjutan. Ketika terdapat celah, seperti keterlambatan atau ketidaklengkapan imunisasi, maka risiko penyebaran penyakit menular seperti campak akan meningkat. “Ketika imunisasi tidak lengkap, anak menjadi lebih rentan. Ini yang harus kita cegah bersama,” ujar Legislator Fraksi Gerindra tersebut.
Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani menyayangkan cakupan vaksinasi campak nasional yang masih rendah. “Cakupan imunisasi campak-rubella secara nasional saat ini masih berada di kisaran 80–82 persen dan belum mencapai target herd immunity sebesar 95%,” ujar Netty.
PENULARAN CEPAT
Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, Hinky Hindra Irawan Satari mengatakan campak sangat menular yang ditularkan melalui udara. Bahkan penyakit tersebut bisa menyebabkan komplikasi yang sangat serius, bahkan sampai kematian.
“Campak mempunyai daya tular yang luar biasa tingginya, yaitu satu kasus campak biasanya menularkan dapat 12-18 anak atau orang. Jika dibandingkan dengan covid-19 hanya 2-3 orang. Kalau campak jauh lebih dahsyat, jauh lebih menular. Sehingga mudah menimbulkan terjadinya kejadian luar biasa,” jelasnya.
Oleh karena itu, Hinky menegaskan bahwa imunisasi campak merupakan salah satu tindakan yang paling bermanfaat. Ia mencontohkan pada periode 2000-2004, sekitar 59 juta kematian dapat dicegah oleh imunisasi campak.
“Sehingga pada saat terjadi KLB campak maka tenaga medis harus mendapatkan vaksin. Nakes lakukan imunisasi lengkap 2 dosis selang 1 bulan jika tidak yakin melakukan imunisasi lengkap maka segera lakukan vaksin. Jadi imunisasi merupakan upaya pencegahan,” jelas Hinky.
KOMPLIKASI CAMPAK
Penyakit campak bukan sebatas ruam dan demam saja ada beberapa komplikasi yang terjadi, salah satunya masalah pneumonia. Sedikitnya 1 dari 20 pasien anak campak mengalami pneumonia dengan mortalitas yang cukup tinggi, yaitu 1 hingga 3 dari 1.000 anak.
Guru Besar Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI-RS Persahabatan, Erlina Burhan menjelaskan penularan campak melalui droplet akan menyerang sel-sel epitel yang ada di saluran nafas, sehingga terjadi peradangan dari saluran nafas, kemudian akan mengganggu pertukaran oksigen maka terjadi sesak. Karena alveoli berisi cairan atau lendir hasil dari peradangan.
“Ini menyebabkan oksigen akan sulit masuk ke dalam darah sehingga pasien menjadi sesak nafas, batuk, demam dan karena campaknya,” kata Erlina.
Pneumonia yang berkaitan dengan campak dibagi menjadi dua yakni pneumonia viral primer dan pneumonia bakterial sekunder. Pneumonia viral primer terjadi akibat virus campak menyerang langsung paru-paru. Akibatnya terjadi peradangan sehingga paru-paru tidak bisa bekerja optimal dalam mengambil oksigen.
Sementara itu, pneumonia bakterial sekunder terjadi karena infeksi bakteri saat atau setelah terkena campak. Akibatnya daya tahan tubuh yang menurun dan bakteri lebih mudah menginfeksi paru-paru, biasnaya menyebabkan kondisinya lebih berat.
“Virus campak menimbulkan sistem imun itu kurang kemampuan untuk melawan kuman-kuman lainnya yang masuk karena daya tahan tubuh yang menurun. Sehingga bakteri lebih mudah menginfeksi paru dan biasanya juga karena sistem imunnya turun menimbulkan kondisi yang berat,” ungkapnya.
Erlina juga menerangkan pasien campak yang perlu dicurigai terkena pneumonia yakni ketika laju nafas lebih cepat dari biasa atau sesak nafas, otot dinding dada terjadi retraksi, bernafas memakai cuping, semakin lemas, batuk, demamnya semakin berat daripada fase awalnya.
“Kondisi itu tidak selalu darurat tetapi tenaga kesehatan dan juga bahkan keluarga perlu memperhatikan hal-hal seperti tersebut dan dievaluasi artinya dilihat dari per hari menunjukan perbaikan atau perburukan,” pungkasnya.
PENURUNAN
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan kasus campak pada pekan ke-12 ada sebanyak 146 kasus. Sementara itu kasus di provinsi dalam beberapa minggu terakhir menunjukkan penurunan seperti di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, kemudian di Sumatra Selatan yang sempat terjadi kenaikan di awal tahun dan mulai turun di minggu ke-12. Penurunan juga terjadi di DKI Jakarta mulai di awal 2025 ada kenaikan, kemudian turun di akhir 2025.
Kemenkes memonitor ada sekitar 102 kabupaten/kota yang melakukan outbreak Response Immunization (ORI) dan Catch Up Campaign (imunisasi kejar serentak). Dari angka tersebut, sekitar 33 di antaranya melakukan ORI, dan 10 daerah yang melakukan ORI dengan jumlah kasus campak tertinggi antara lain Kabupaten Pandeglang, Serang, Tangerang Selatan, Tangerang, Serang, Bima, Kota Depok, Palembang, Jakarta Barat, dan Palu. (H-1)

