
Ilustrasi. (Agung)
PEJABAT Amerika Serikat mencurigai bahwa kelompok peretas asal Iran berada di balik serangkaian pembobolan sistem pemantau jumlah bahan bakar di tangki penyimpanan SPBU di berbagai negara bagian. Insiden ini menambah ketegangan siber di tengah konflik fisik yang sedang berlangsung antara AS, Israel, dan Iran.
Para peretas dilaporkan mengeksploitasi sistem Automatic Tank Gauge (ATG) yang terhubung secara daring tanpa perlindungan kata sandi. Meski tidak menyebabkan kerusakan fisik secara langsung, akses ini memungkinkan pelaku memanipulasi pembacaan tampilan tangki. Para ahli memperingatkan bahwa manipulasi ATG secara teoretis dapat membuat kebocoran gas tidak terdeteksi yang menimbulkan risiko keselamatan serius.
Infrastruktur Kritis Jadi Sasaran Empuk
Iran menjadi tersangka utama karena rekam jejaknya yang sering menargetkan sistem serupa. Namun, pemerintah AS mengakui ada kesulitan dalam pembuktian forensik karena minimnya jejak digital yang ditinggalkan oleh para peretas. Jika terbukti, ini akan menjadi bukti terbaru bahwa Teheran mampu mengancam infrastruktur vital di daratan AS, wilayah yang tidak terjangkau oleh rudal atau drone mereka.
Kampanye peretasan ini juga menjadi peringatan keras bagi operator infrastruktur kritis di AS. Kelompok peretas Iran dikenal sering mencari celah mudah (low-hanging fruit), yaitu sistem komputer yang terhubung internet tanpa pengamanan memadai di sektor minyak, gas, dan utilitas air.
Catatan Keamanan: Peneliti siber memperingatkan kerentanan sistem ATG selama lebih dari satu dekade. Laporan tahun 2021 bahkan mengungkap dokumen internal Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang secara spesifik menargetkan sistem ini untuk gangguan siber.
Eskalasi Operasi Siber Iran
Meskipun kemampuan siber Iran secara tradisional dianggap berada di bawah Tiongkok atau Rusia, operasi mereka selama perang ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam hal skala dan kecepatan. Beberapa dampak yang tercatat meliputi:
- Gangguan pada situs minyak, gas, dan air di berbagai lokasi di AS.
- Keterlambatan pengiriman pada Stryker, produsen perangkat medis besar di AS.
- Kebocoran email pribadi Direktur FBI, Kash Patel.
- Serangan psikologis melalui media sosial dan Telegram menggunakan identitas hacktivist.
Yossi Karadi, kepala badan pertahanan siber Israel, menyatakan bahwa aktivitas siber Iran menunjukkan integrasi yang kuat antara operasi teknis dan kampanye psikologis. “Aktor Iran berada di bawah tekanan dan mencoba menyerang di mana pun mereka menemukan celah di ruang siber,” ujarnya.
Implikasi Politik dan Ekonomi
Isu ini menjadi sangat sensitif bagi pemerintahan Trump, terutama karena menarik perhatian publik pada lonjakan harga bahan bakar yang dipicu oleh perang. Berdasarkan jajak pendapat terbaru, 75% orang dewasa di AS menyatakan bahwa perang dengan Iran berdampak negatif pada keuangan pribadi mereka. Harga bensin kini melampaui US$4,50 atau sekitar Rp79 ribu per galon.
Selain ancaman terhadap infrastruktur, para pejabat AS mengkhawatirkan potensi campur tangan Iran dalam pemilihan paruh waktu mendatang melalui operasi informasi dan disinformasi berbasis AI, serupa dengan taktik yang pernah mereka gunakan pada pemilu 2020 dan 2024.
Hingga saat ini, Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur (CISA) serta FBI masih melakukan investigasi mendalam terkait cakupan penuh dari peretasan sistem tangki bahan bakar ini. (CNN/I-2)


