
SPBU di AS.(Al Jazeera)
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana ambisius untuk menangguhkan pajak bahan bakar minyak (BBM) federal. Langkah ini diambil sebagai upaya darurat untuk meringankan beban ekonomi warga di tengah lonjakan harga energi yang dipicu oleh konflik bersenjata dengan Iran.
Dalam wawancara dengan CBS News pada Senin (11/5), Trump menyatakan akan menghapus pajak tersebut untuk sementara waktu. “Kami akan mencabut pajak bensin untuk jangka waktu tertentu. Ketika harga turun, kami akan memberlakukannya kembali secara bertahap,” ujar sang Presiden.
Relaksasi Pajak di Tengah Rekor Harga BBM
Rencana kebijakan ini mencakup penghapusan pajak sebesar 18,4 sen per galon untuk bensin dan 24,4 sen per galon untuk diesel. Meskipun terlihat kecil, langkah ini diharapkan memberikan napas bagi para pengemudi yang menyaksikan harga BBM melonjak hingga 50% sejak perang meletus pada 28 Februari lalu.
Saat ini, rata-rata nasional harga bensin di AS mencapai US$4,52 atau sekitar Rp79.100 per galon. Jika kebijakan ini diterapkan hari ini, harga diperkirakan turun menjadi US$4,34. Namun, angka tersebut masih jauh di atas harga sebelum konflik yang berada di kisaran US$2,98 per galon.
- Harga Minyak: Minyak mentah Brent melonjak menjadi US$104 per barel (naik 40% sejak dimulainya perang).
- Tiket Pesawat: Rata-rata tiket domestik naik 21% menjadi US$570.
- Sektor Penerbangan: Maskapai Spirit Airlines dinyatakan likuidasi pada 2 Mei akibat lonjakan harga bahan bakar jet.
Tekanan Politik Jelang Pemilu Sela
Langkah Trump ini tidak lepas dari tekanan politik menjelang pemilu sela (midterms) pada November mendatang. Jajak pendapat terbaru dari NPR/PBS/Marist menunjukkan bahwa 63% warga Amerika menyalahkan Trump atas lonjakan harga ini, sementara 80% responden mengaku keuangan mereka tercekik oleh biaya di pompa bensin.
Para penasihat kepresidenan dilaporkan khawatir bahwa Partai Republik akan menerima hukuman dari pemilih di kotak suara jika krisis energi ini tidak segera teratasi. Trump sendiri bersikeras bahwa kenaikan harga ialah harga kecil yang harus dibayar untuk melenyapkan ancaman senjata nuklir dari Iran.
Kebuntuan Diplomasi dan Ancaman Militer
Di sisi lain, prospek perdamaian masih terlihat suram. Trump menolak tawaran balasan terbaru dari Teheran yang ia sebut sebagai proposal yang sangat bodoh. Iran menuntut ganti rugi perang dan kendali penuh atas Selat Hormuz yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Washington.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada musuh. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa jika diplomasi gagal mengeluarkan material nuklir dari Iran, opsi militer akan kembali diambil.
Pekan ini, Trump dijadwalkan mengunjungi Tiongkok untuk mendesak Presiden Xi Jinping agar menekan Iran, mengingat Beijing adalah pembeli terbesar minyak mentah Iran yang saat ini berada di bawah sanksi AS. Namun, dengan Selat Hormuz yang masih terblokade dan harga minyak dunia yang terus bergejolak, pemulihan ekonomi AS diprediksi akan memakan waktu yang lama. (Daily Mail/I-2)



