Home Uncategorized Kasus Air Keras Andrie Yunus Jadi Alarm Merah Kebebasan Sipil di Indonesia

Kasus Air Keras Andrie Yunus Jadi Alarm Merah Kebebasan Sipil di Indonesia

3


Kasus Air Keras Andrie Yunus Jadi Alarm Merah Kebebasan Sipil di Indonesia
Ilustrasi(Dok Istimewa)

AKSI kekerasan yang menimpa Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, melalui penyiraman air keras menjadi sorotan tajam dalam diskusi publik bertajuk “Memastikan Kebebasan Sipil di Indonesia” di Jakarta, Senin (13/4/2026). Insiden ini dinilai sebagai ancaman nyata bagi para pembela Hak Asasi Manusia (HAM) dan kemunduran bagi demokrasi Indonesia.

Jurnalis senior Asri Hadi menegaskan bahwa penuntasan kasus ini tidak boleh hanya menyentuh pelaku di lapangan. Ia mendesak kepolisian untuk berani membongkar dalang di balik serangan tersebut guna memulihkan kepercayaan publik terhadap institusi keamanan.

“Pentingnya pengungkapan aktor intelektual di balik serangan tersebut sehingga tidak mencoreng institusi TNI secara keseluruhan,” kata Asri Hadi, merujuk pada perlunya transparansi agar tidak ada spekulasi liar yang merugikan institusi negara.

Kebebasan Sipil dalam Ancaman

Anggota DPRD DKI Jakarta, Sophie Simanjuntak, turut menyuarakan keprihatinannya. Menurutnya, negara harus menjamin keamanan bagi setiap warga negara yang menyuarakan kritik dan memperjuangkan kemanusiaan. Ruang sipil yang sehat adalah ruang yang bebas dari intimidasi fisik maupun psikis.

“Ruang kebebasan sipil harus terus dibuka selebar-lebarnya dan kasus kekerasan terhadap aktivis kemanusiaan dan HAM tidak boleh terulangi lagi,” ujar Sophie. Meski demikian, ia mengingatkan agar kebebasan berpendapat tetap dilakukan secara bertanggung jawab tanpa memicu narasi provokatif yang merugikan kepentingan umum.

Oposisi Melemah, Aktivis Jadi Sasaran

Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Nusantara (HMPN), Astra Tandang, melihat fenomena kekerasan terhadap aktivis ini terjadi di tengah lesunya peran partai politik sebagai kekuatan penyeimbang (oposisi).

Astra menilai, ketika partai politik gagal menghadirkan kritik yang kuat di parlemen, beban kontrol sosial berpindah ke pundak aktivis dan pengamat seperti Saiful Mujani. Hal inilah yang membuat mereka rentan menjadi sasaran serangan.

“Hal ini bisa juga dilihat sebagai refleksi kekecewaan terhadap partai politik yang dinilai belum optimal menghadirkan oposisi yang kuat di suasana politik kita hari ini,” ungkap Astra.(H-2)



Source link