
Dokter spesialis neurologi Andre Sp.N memperingatkan atrial fibrilasi (AF) sebagai pemicu utama stroke iskemik(Dok. Magnific)
DOKTER spesialis neurologi dari Universitas Indonesia, Andre (Sp.N), mengungkapkan bahwa gangguan irama jantung atau atrial fibrilasi (AF) merupakan salah satu pemicu utama terjadinya stroke iskemik atau stroke akibat penyumbatan pembuluh darah.
Kondisi detak jantung yang tidak teratur pada penderita AF memicu terbentuknya bekuan darah di dalam jantung. Gumpalan tersebut berisiko terlepas dan terbawa aliran darah menuju otak, yang kemudian menyebabkan penyumbatan fatal.
“Atrial fibrilasi denyut jantungnya gak teratur sehingga terbentuk bekuan darah, turbulen terperangkap di jantung sehingga suatu saat dia bisa lepas masuk ke otak jadilah stroke,” ujar Andre dilansir dari Antara, Selasa (12/5).
Risiko Cacat dan Periode Emas
Stroke yang dipicu oleh atrial fibrilasi cenderung memiliki tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan penyebab lainnya. Kondisi ini sering kali menyebabkan gejala sisa berupa kecacatan berat hingga risiko kematian jika tidak segera ditangani.
Andre menekankan pentingnya golden period atau periode emas penanganan stroke sumbatan, yakni di bawah 4,5 jam setelah serangan. Dalam kurun waktu tersebut, pasien dapat diberikan obat trombolisis untuk memecah sumbatan pembuluh darah.
“Jadi tidak ada lagi istilahnya kalau stroke, dibiarin aja dulu mungkin itu kemasukan, mungkin itu kena angin duduk, dibiarin aja dulu sembuh sendiri, jangan! Segera ke rumah sakit,” tegas dokter yang berpraktik di RS Pondok Indah tersebut.
Langkah Pencegahan dan Faktor Risiko
Meskipun berbahaya, risiko stroke dapat ditekan melalui pengendalian faktor risiko dan pola hidup sehat. Berikut adalah langkah pencegahan yang disarankan:
- Mengontrol tekanan darah dan kadar kolesterol secara rutin.
- Melakukan olahraga ringan minimal 30 menit sebanyak lima kali seminggu.
- Mengonsumsi makanan sehat dan menjaga berat badan ideal.
- Berhenti merokok.
- Melakukan deteksi dini terhadap risiko atrial fibrilasi atau penyakit jantung lainnya.
Selain faktor yang bisa dikendalikan, Andre juga mengingatkan adanya faktor risiko yang tidak dapat diubah, seperti usia di atas 55 tahun, faktor genetik (riwayat keluarga), serta jenis kelamin, di mana pria cenderung memiliki risiko lebih tinggi akibat riwayat hipertensi. (Ant/Z-10)



