{"id":7436,"date":"2025-01-04T00:19:17","date_gmt":"2025-01-04T00:19:17","guid":{"rendered":"https:\/\/uang69.id\/?p=7436"},"modified":"2025-01-04T00:19:17","modified_gmt":"2025-01-04T00:19:17","slug":"ciptakan-lingkungan-kondusif-untuk-belajar-pada-program-pendidikan-dokter-spesialis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/uang69.id\/?p=7436","title":{"rendered":"Ciptakan Lingkungan Kondusif untuk Belajar pada Program Pendidikan Dokter Spesialis"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/cdn-cgi\/image\/width=800,quality=80,format=webp\/https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2024\/08\/23\/1724377774_a57f07f1fb0f3527bea1.jpg\" alt=\"Ciptakan Lingkungan Kondusif untuk Belajar pada Program Pendidikan Dokter Spesialis\"\/><br \/>\nIlustrasi(freepik.com)<\/p>\n<p>AKSI bunuh diri yang dilakukan dokter Aulia Risma Lestari, mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) anastesi di Universitas Diponegoro menjadi perhatian publik. Dugaan bullying pun mencuat sebagai penyebab aksi nahas tersebuut.<\/p>\n<p>Merespons\u00a0itu, Psikolog dari Universitas Indonesia Dicky Paluppesy mengungkapkan, jika melihat data yang bersifat anekdotal, atau bukan diperoleh lewat pengumpulan data secara terstruktur atau mengikuti metode ilmiah, kasus bunuh diri mahasiswa PPDS Undip bukanlah fenomena yang kasuistik.\n<\/p>\n<p>\u201cAnteseden atau penyebabnya bukan sesuatu yang unik yang hanya terjadi saat itu di PPDS Undip. Ini bisa dicek dari informasi-informasi yang disampaikan di media sosial oleh yang mengaku melihat, mengalami atau terkena dampaknya,\u201d kata Dicky saat dihubungi, Kamis (22\/8). <\/p>\n<p>Baca juga :\u00a0Kemenkes Masih Investigasi Pemicu Kematian Mahasiswi PPDS Undip\n<\/p>\n<p>Ia menjelaskan, prinsip dasar dalam memahami perilaku termasuk tindakan bunuh diri adalah perilaku dihasilkan dari interaksi faktor individu dan faktor lingkungan. Jadi, lanjut Dicky, kita bisa mengira-ngira lingkunga, baik lingkungan sosial, lingkungan belajar hingga lingkungan seperti apa yang dialami dalam kasus PPDS Undip dan PPDS lain yang secara indikatif diceritakan di media dan media sosial.\n<\/p>\n<p>\u201cSecara sederhana, berarti lingkungan itu menekan. Tekanan itu akumulatif, memberatkan, dan tampaknya tanpa ada atau sulit diintervensi untuk dihentikan. Malah mungkin dirawat dengan anggapan sebagai tradisi lingkungan yang memberikan identitas tertentu,\u201d ungkapnya.\n<\/p>\n<p>Untuk mencegah kasus serupa di kemudian hari, Dicky menilai perlu adanya intervensi terhadap lingkungan. Menurutnya, berbagai pihak harus menciptakan lingkungan yang zero tolerance terhadap pemberian tekanan tanpa alasan yang jelas. Dalam hal pendidikan, tekanan itu bisa berupa bagian dari tugas instruksional dan semua bentuk perundungan, baik fisik, emosional termasuk gosip.\n<\/p>\n<p>\u201cAngkat juga contoh-contoh baik yaitu ketika ada lingkungan belajar yang tegas mencegah atau melawan perundungan. Dengan ada contoh lingkungan belajar suportif yang tidak menolerir perundungan, maka yang lain bisa belajar bahwa lingkungan zero tolerance terhadap perundungan, lingkungan kondusif untuk belajar, bisa diciptakan,\u201d pungkas dia.\n<\/p>\n<\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/695065\/ciptakan-lingkungan-kondusif-untuk-belajar-pada-program-pendidikan-dokter-spesialis\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(freepik.com) AKSI bunuh diri yang dilakukan dokter Aulia Risma Lestari, mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) anastesi di Universitas Diponegoro menjadi perhatian publik. Dugaan bullying pun mencuat sebagai penyebab aksi nahas tersebuut. Merespons\u00a0itu, Psikolog dari Universitas Indonesia Dicky Paluppesy mengungkapkan, jika melihat data yang bersifat anekdotal, atau bukan diperoleh lewat pengumpulan data secara terstruktur atau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7437,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"tdm_status":"","tdm_grid_status":"","footnotes":""},"categories":[34,37],"tags":[],"class_list":["post-7436","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-dalam-negeri","category-berita-ekonomi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7436","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7436"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7436\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9810,"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7436\/revisions\/9810"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/7437"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7436"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7436"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7436"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}