{"id":7153,"date":"2025-03-05T23:39:43","date_gmt":"2025-03-05T23:39:43","guid":{"rendered":"https:\/\/uang69.id\/?p=7153"},"modified":"2025-03-05T23:39:44","modified_gmt":"2025-03-05T23:39:44","slug":"soal-manual-atau-digital-terpenting-komik-bisa-dinikmati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/uang69.id\/?p=7153","title":{"rendered":"Soal Manual atau Digital Terpenting Komik Bisa Dinikmati"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/cdn-cgi\/image\/width=800,quality=80,format=webp\/https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2024\/08\/14\/1723644239_2ae2468788edc0932787.jpg\" alt=\"Soal Manual atau Digital Terpenting Komik Bisa Dinikmati\"\/><br \/>\n(Dok. 123RF.com)<\/p>\n<p style=\"text-indent:0cm; margin-bottom:13px\"><span style=\"font-size:12pt\"><span style=\"line-height:115%\"><span style=\"font-family:&quot;Palatino Linotype&quot;,serif\">PERJALANAN komik di Indonesia sudah cukup lama, para pelakunya pun telah beregenerasi. Tema-tema yang muncul kian beragam, termasuk cara memproduksinya. Pada era lawas atau ketika dulu komik lebih dikenal dengan istilah cergam (cerita gambar), proses pembuatannya menggunakan cara konvensional. Kini, seiring dengan perkembangan teknologi, produksi komik telah mengakomodasi berbagai cara baru.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-indent:0cm; margin-bottom:13px\"><span style=\"font-size:12pt\"><span style=\"line-height:115%\"><span style=\"font-family:&quot;Palatino Linotype&quot;,serif\">Penulis dan tim kreatif Bumilangit Fajar Sungging Pramudito ialah salah satu yang masih menggunakan cara konvensional dalam menggambar komik. Ia yang juga anak komikus Wid NS, kreator Godam, lebih nyaman berkarya dengan cara konvensional.<\/span><\/span><\/span>\n<\/p>\n<p style=\"text-indent:0cm; margin-bottom:13px\"><span style=\"font-size:12pt\"><span style=\"line-height:115%\"><span style=\"font-family:&quot;Palatino Linotype&quot;,serif\">\u201cKetika proses membuat komik Godam: Ujian buat Awan, itu proses menggambarnya penuh dengan kesalahan. Karena manual, jadi, ya, tidak bisa diperbaiki. Saya lakukan berbagai macam hal. Ketika menggambar secara manual, tentu punya kendala sangat banyak, tapi juga harus bisa dengan cepat menemukan solusi. Kreativitas serta alat dan bahan itu wajib dikuasai,\u201d kata Sungging dalam diskusi Cergam Manual atau Digital? di Bentara Budaya Jakarta, Palmerah, Jakarta Barat, Jumat (9\/8).<\/span><\/span><\/span> <\/p>\n<p>Baca juga :\u00a0Komik Digital, Jalan Bagi Komikus Berkarya Hingga Kancah Dunia\n<\/p>\n<p style=\"text-indent:0cm; margin-bottom:13px\"><span style=\"font-size:12pt\"><span style=\"line-height:115%\"><span style=\"font-family:&quot;Palatino Linotype&quot;,serif\">Sungging menggunakan beberapa teknik seperti akuarel hingga blok. Menurut Sungging, dengan teknik konvensional dalam menggambar komik, komikus dituntut lebih kreatif untuk bisa membenahi yang \u2018rusak\u2019 menjadi tidak rusak. Sementara itu, seniman grafis Iput Ukra, yang tumbuh dan besar dalam masa peralihan dari konvensional ke digital, kerap memanfaatkan alat-alat yang ada di digital untuk menanggulangi kesalahan dalam proses konvensional.<\/span><\/span><\/span>\n<\/p>\n<p style=\"text-indent:0cm; margin-bottom:13px\"><span style=\"font-size:12pt\"><span style=\"line-height:115%\"><span style=\"font-family:&quot;Palatino Linotype&quot;,serif\">\u201cWaktu itu sempat menggambar dengan cat air, tapi warnanya kurang bagus. Akhirnya tone warnanya saya ganti lewat digital. Terpenting sebenarnya hasil akhir ketika gambar itu tayang atau komik terbit. Tujuan utamanya, kan, hasil akhirnya yang dinikmati,\u201d ucap Iput.<\/span><\/span><\/span>\n<\/p>\n<p style=\"text-indent:0cm; margin-bottom:13px\"><span style=\"font-size:12pt\"><span style=\"line-height:115%\"><span style=\"font-family:&quot;Palatino Linotype&quot;,serif\">Menurut Iput, saat ini dalam penciptaan karya seperti komik sudah tak bisa dipisahkan antara konvensional dan digital. Beberapa kali, ia memanfaatkan penggunaan alat digital seperti untuk sketsa, referensi gaya dan gerak, hingga pewarnaan (coloring).<\/span><\/span><\/span> <\/p>\n<p>Baca juga :\u00a0Komik Bangsatnya Cinta Pertama Karya Kolaborasi Diluncurkan\n<\/p>\n<p style=\"text-indent:36pt; margin-bottom:13px\">\n<p style=\"text-indent:0cm; margin-bottom:13px\"><span style=\"font-size:12pt\"><span style=\"line-height:115%\"><span style=\"font-family:&quot;Palatino Linotype&quot;,serif\">Digitalisasi dan peremajaan<\/span><\/span><\/span>\n<\/p>\n<p style=\"text-indent:0cm; margin-bottom:13px\"><span style=\"font-size:12pt\"><span style=\"line-height:115%\"><span style=\"font-family:&quot;Palatino Linotype&quot;,serif\">Anak kreator Si Buta dari Gua Hantu, Gienardy Santosa, yang juga membidani lahirnya terbitan baru komik-komik lama milik Ganes TH itu, mengaku era digital juga membantu pembaca dalam mengakses bacaan lawas. Komik-komik Si Buta dari Gua Hantu yang hampir lapuk itu bisa diselamatkan dengan remastered.<\/span><\/span><\/span> <\/p>\n<p>Baca juga :\u00a0Kecerdasan Buatan Mulai Digunakan untuk Pembuatan Komik di Jepang\n<\/p>\n<p style=\"text-indent:0cm; margin-bottom:13px\"><span style=\"font-size:12pt\"><span style=\"line-height:115%\"><span style=\"font-family:&quot;Palatino Linotype&quot;,serif\">\u201cDengan digitalisasi, itu membantu proses peremajaan. Dari buku lama di-remastered. Jadi, hasil akhirnya seperti komik baru,\u201d kata Gienardy.<\/span><\/span><\/span>\n<\/p>\n<p style=\"text-indent:0cm; margin-bottom:13px\"><span style=\"font-size:12pt\"><span style=\"line-height:115%\"><span style=\"font-family:&quot;Palatino Linotype&quot;,serif\">Komikus legendaris Indonesia, Mansyur Daman (MAN), kreator Golok Setan dan Siluman Sungai Ular, menuturkan digitalisasi juga turut menciptakan hasil akhir yang lebih maju. Ia yang sudah berkarya selama lebih dari enam dekade juga telah mengalami berbagai perubahan zaman. Mulai letterpress, menggambar manual dengan tangan, hingga era kini.<\/span><\/span><\/span>\n<\/p>\n<p style=\"text-indent:0cm; margin-bottom:13px\"><span style=\"font-size:12pt\"><span style=\"line-height:115%\"><span style=\"font-family:&quot;Palatino Linotype&quot;,serif\">\u201cDari cara menggambar, mendapat alat-alat dan mesin, rasanya tidak puas kalau hasil akhir itu berbeda dengan yang kita gambar. Sampai kemudian tiba pada zaman (percetakan) offset, warna apa yang kita bikin itu bisa dicetak persis. Muncul lagi digital, itu lebih bagus kalau dibandingkan dengan karya aslinya,\u201d ungkap Mansyur dalam sesi diskusi Bagaimana Bertahan Berkarya Lintas Generasi di Bentara Budaya Jakarta, Palmerah, Jakarta Barat, Sabtu (10\/8).<\/span><\/span><\/span> <\/p>\n<p>Baca juga :\u00a0Cara Sweta Kartika Kembangkan Kekayaan Intelektualnya\n<\/p>\n<p style=\"text-indent:0cm; margin-bottom:13px\"><span style=\"font-size:12pt\"><span style=\"line-height:115%\"><span style=\"font-family:&quot;Palatino Linotype&quot;,serif\">Si Buta dari Gua Hantu bisa disebut sebagai salah satu pelopor komik silat yang tenar era 1970-an. Gien menyebut, semula ayahnya juga membuat komik beberapa genre lain, seperti drama percintaan rumah tangga yang laku keras. Si Buta juga bukan komik silat pertama Ganes, tetapi mampu membawa popularitas genre itu hingga beberapa tahun kemudian.<\/span><\/span><\/span>\n<\/p>\n<p style=\"text-indent:0cm; margin-bottom:13px\"><span style=\"font-size:12pt\"><span style=\"line-height:115%\"><span style=\"font-family:&quot;Palatino Linotype&quot;,serif\">Kini, genre-genre seperti pahlawan super juga jamak ditemui, seperti komik-komik terbitan Bumilangit. Itu ditambah dengan adaptasi cerita dan karakter mereka ke dalam film seperti Gundala, Sri Asih, atau serial Tira.<\/span><\/span><\/span>\n<\/p>\n<p style=\"text-indent:0cm; margin-bottom:13px\"><span style=\"font-size:12pt\"><span style=\"line-height:115%\"><span style=\"font-family:&quot;Palatino Linotype&quot;,serif\">Cerita dan karakter dari komik lawas juga mengalami perluasan serta peremajaan. Seperti yang dilakukan Sungging dengan karakter Godam dan Si Buta. Sungging menilai para komikus era lampau selalu membuat cerita yang \u2018nanggung\u2019. Ia lantas mencoba meluaskan dunia dan semesta dari karakter yang ada di komik.<\/span><\/span><\/span>\n<\/p>\n<p style=\"text-indent:0cm; margin-bottom:13px\"><span style=\"font-size:12pt\"><span style=\"line-height:115%\"><span style=\"font-family:&quot;Palatino Linotype&quot;,serif\">\u201cSaya bikin cerita baru, dari mana jubah\/baju Godam itu berasal. Lalu Si Buta, dari mana, sih, sebenarnya Si Mata Malaikat. Saya coba buat cerita latar belakangnya,\u201d tutur Sungging. (M-3)<\/span><\/span><\/span>\n<\/p>\n<\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/hiburan\/692831\/soal-manual-atau-digital-terpenting-komik-bisa-dinikmati\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Dok. 123RF.com) PERJALANAN komik di Indonesia sudah cukup lama, para pelakunya pun telah beregenerasi. Tema-tema yang muncul kian beragam, termasuk cara memproduksinya. Pada era lawas atau ketika dulu komik lebih dikenal dengan istilah cergam (cerita gambar), proses pembuatannya menggunakan cara konvensional. Kini, seiring dengan perkembangan teknologi, produksi komik telah mengakomodasi berbagai cara baru. Penulis dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"tdm_status":"","tdm_grid_status":"","footnotes":""},"categories":[34,35],"tags":[],"class_list":["post-7153","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita-dalam-negeri","category-berita-internasional"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7153","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7153"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7153\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10153,"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7153\/revisions\/10153"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7153"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7153"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7153"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}