{"id":16689,"date":"2026-05-09T15:25:35","date_gmt":"2026-05-09T15:25:35","guid":{"rendered":"https:\/\/uang69.id\/?p=16689"},"modified":"2026-05-09T15:25:37","modified_gmt":"2026-05-09T15:25:37","slug":"imigrasi-jadi-instrumen-strategis-kekuatan-negara-modern","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/uang69.id\/?p=16689","title":{"rendered":"Imigrasi Jadi Instrumen Strategis Kekuatan Negara Modern"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<p>                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/05\/09\/1778336744_1417c62eb16bfde926fc.jpg\" alt=\"Imigrasi Jadi Instrumen Strategis Kekuatan Negara Modern\"\/><br \/>\n                                Ilustrasi(Dok istimewa )<\/p>\n<p>JIKA pada masa lalu kekuatan diukur dari jumlah alutsista, kini negara dinilai dari kemampuannya mengelola arus manusia, data, teknologi, dan mobilitas global. Negara yang mampu mengontrol pergerakan orang dan informasi akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat dibanding negara yang membuka diri tanpa strategi. Pandangan itu disampaikan Abdullah Rasyid, Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN dan Staf Khusus Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, dalam kajian terbarunya mengenai peran strategis imigrasi di era baru.<\/p>\n<p>Menurutnya, imigrasi tidak lagi bisa dipahami sebatas layanan administrasi paspor, visa, atau cap stempel kedatangan. <\/p>\n<p>\u201cImigrasi telah berevolusi menjadi instrumen geopolitik, geoekonomi, sekaligus alat pertahanan nonmiliter negara modern,\u201d tegas Rasyid.<\/p>\n<p class=\"related-news\">Baca juga :\u00a0Geopolitik Iran-Israel \u00a0akan Pengaruhi Pergerakan Saham Pekan Ini<\/p>\n<p>Aktivis pergerakan ini menilai Indonesia berada pada titik penting transformasi tersebut. Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, arah pembangunan melalui Astacita menempatkan kedaulatan, hilirisasi ekonomi, ketahanan nasional, dan pembangunan manusia sebagai prioritas.<\/p>\n<p>\u201cDalam kerangka itu, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (IMIPAS) memegang peran strategis yang jauh melampaui fungsi administratif,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Negara, lanjutnya, kini berlomba mempertahankan bukan hanya teritori, tetapi juga kontrol atas siapa yang masuk, siapa yang bekerja, siapa yang berinvestasi, bahkan siapa yang menguasai data.<\/p>\n<p class=\"related-news\">Baca juga :\u00a0Selat Hormuz Jadi Sorotan, Kedutaan Besar Iran di Seoul Bantah Keterlibatan Insiden Kapal Korsel<\/p>\n<p>Rasyid menegaskan ancaman kedaulatan tidak lagi datang dari invasi bersenjata, tetapi dari mobilitas ilegal dan lemahnya pengawasan. Dalam konteks ini, penguatan pengawasan orang asing, intelijen keimigrasian, sistem blacklist nasional, serta pengamanan jalur perbatasan tidak boleh dipandang sebagai agenda teknis semata.<\/p>\n<p>&#8220;Semua itu merupakan strategi mempertahankan kedaulatan,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Rasyid mengingatkan negara tidak dapat berdiri hanya dengan logika keamanan semata.<\/p>\n<p>\u201cKedaulatan tanpa produktivitas hanya akan menghasilkan stagnasi,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Karena itu, kebijakan imigrasi juga harus bergerak dalam dimensi ekonomi. Program seperti Golden Visa, visa investasi, dan fasilitasi tenaga kerja asing strategis, menurutnya, harus dikaitkan langsung dengan agenda pembangunan nasional seperti hilirisasi industri dan transfer teknologi.<\/p>\n<p>\u201cKita bisa menerima investasi besar, tetapi gagal mentransformasikan pengetahuan jika tidak memiliki desain yang presisi. Tanpa arah yang jelas, arus modal dan tenaga asing dapat menciptakan enclave ekonomi yang tidak terhubung dengan kepentingan nasional,\u201d paparnya.<\/p>\n<p>Rasyid juga menyinggung kompetisi dunia dalam menarik talenta global: ilmuwan, peneliti, hingga pekerja digital terbaik.<\/p>\n<p>\u201cDalam ekonomi berbasis pengetahuan, kekuatan negara ditentukan oleh kemampuannya menguasai manusia-manusia unggul,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Karena itu, kebijakan fasilitasi mahasiswa asing, penguatan diaspora, dan kerja sama pendidikan internasional harus diarahkan pada strategi brain gain.<\/p>\n<p>\u201cIndonesia tidak cukup hanya menjadi destinasi wisata. Kita harus menjadi pusat pengetahuan dan inovasi regional,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Di bagian lain, Rasyid menjelaskan transformasi digital melahirkan konsep digital border, seperti\u00a0e-visa, autogate, biometrik, artificial intelligence, dan big data memainkan peranan penting.<\/p>\n<p>\u201cPerbatasan negara kini tidak hanya dijaga oleh pos pemeriksaan, tetapi juga oleh algoritma dan integrasi data,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Menurutnya, Indonesia harus memperkuat transformasi digital ini agar tidak tertinggal dari negara-negara yang lebih dulu membangun sistem smart border. Dalam pandangan Rasyid, imigrasi adalah jantung dari kekuatan negara modern, persimpangan antara kedaulatan, keamanan, ekonomi, teknologi, dan pengetahuan. <\/p>\n<p>Ia menegaskan hanya dengan desain besar yang presisi, kebijakan imigrasi dapat selaras dengan Astacita, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika global yang semakin kompleks. (E-4)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/888486\/imigrasi-jadi-instrumen-strategis-kekuatan-negara-modern\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Dok istimewa ) JIKA pada masa lalu kekuatan diukur dari jumlah alutsista, kini negara dinilai dari kemampuannya mengelola arus manusia, data, teknologi, dan mobilitas global. Negara yang mampu mengontrol pergerakan orang dan informasi akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat dibanding negara yang membuka diri tanpa strategi. Pandangan itu disampaikan Abdullah Rasyid, Mahasiswa Doktoral Ilmu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":16690,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"tdm_status":"","tdm_grid_status":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-16689","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/16689","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=16689"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/16689\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16691,"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/16689\/revisions\/16691"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/16690"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=16689"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=16689"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/uang69.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=16689"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}