Kampus Universitas Airlangga(Dok Unair)
PEMECATAN Prof Budi Santoso dari jabatan Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dinilai menamatkan kebebasan berpendapat di kampus.
Budi diduga dicopot dari jabatannya karena menolak program mendatangkan dokter asing ke Indonesia yang digagas Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
“Jika benar pemberhentian Prof Budi disebabkan oleh kritiknya, tamatlah kebebasan menyampaikan berpendapat atau kritik di kampus-kampus kita,” kata Anggota Komisi X DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahmy Alaydroes melalui keterangan tertulis, dikutip Minggu (7/7).
Baca juga : Universitas Airlangga: Pemecatan Dekan FK Budi Santoso karena Kebijakan Internal
Dia mengatakan bila kondisi terus terjadi, kampus-kampus akan menjadi kerdil. Para sivitas akademika juga terhalang menyampaikan pikiran kritis mereka.
“Bukan tidak mungkin, bila hal ini dibiarkan, kampus-kampus kita akan menjadi kerdil, tidak ada lagi para akademisi, guru besar yang mau menyampaikan pikiran-pikiran kritis mereka. Kampus Merdeka hanya nama belaka,” ucap Fahmy.
Sebelumnya, kabar dipecatnya Budi Santoso beredar di Whatsapp Group (WAG) dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Baca juga : Akademisi Sayangkan Pemecatan Dekan FK Unair
Dalam pernyataannya, Budi Santoso berpamitan kepada sekitar 300-an member di grup tersebut, usai menerima keputusan Rektorat Unair yang memberhentikan dirinya dari jabatan Dekan FK Unair.
Budi Santoso membenarkan pernyataan dirinya menolak program dokter asing di Indonesia berkaitan dengan hal tersebut.
Ia meyakini 92 Fakultas Kedokteran di Indonesia mampu meluluskan dokter-dokter yang berkualitas. Bahkan, kualitasnya tidak kalah dengan dokter-dokter asing. (Z-1)


