
Gambar multi-gelombang ini menunjukkan sisa supernova Nebula Ubur-ubur (kanan), awan antarbintang yang berinteraksi dengannya, dan filamen melengkung yang khas di kiri atasnya. Filamen tersebut, yang ditampilkan di sini baik dalam cahaya optik maupun ultra(NASA Goddard Space Flight Center dan M. Michailidis dkk. 2026; optik: DSS; inframerah: NASA/WISE/JPL-Caltech/UCLA; ultraviolet: NASA/Swift)
UNTUK pertama kalinya dalam sejarah astronomi, para ilmuwan kemungkinan telah menemukan sistem bintang ganda (biner) di mana kedua bintang anggotanya sama-sama meledak menjadi supernova. Fenomena langka ini tersembunyi di wilayah sisa-sisa supernova terkenal bernama IC 443, atau yang lebih populer dengan sebutan Nebula Ubur-Ubur (Jellyfish Nebula), yang terletak sekitar 6.000 tahun cahaya dari Bumi di rasi bintang Gemini.
Dalam jagat raya, sebagian besar bintang bermassa besar terlahir secara berpasangan atau berada dalam sistem biner, mirip seperti fenomena dua matahari di planet fiksi Tatooine pada waralaba Star Wars. Mengingat banyaknya bintang raksasa yang hidup berdampingan, fenomena di mana kedua bintang berakhir meledak seharusnya menjadi hal yang wajar terjadi.
Namun, hingga saat ini belum ada satu pun bukti nyata yang pernah teramati secara langsung. Peneliti Michailidis dan timnya menjelaskan salah satu alasan mengapa pasangan supernova ini begitu sulit ditemukan selama ini adalah masalah jarak dan tampilan fisik sisa-sisa ledakannya.
“Jika bintang-bintang tersebut berada terlalu dekat satu sama lain saat meledak, sisa-sisa supernova yang dihasilkan dapat terlihat seperti berasal dari satu ledakan tunggal,” jelas Michailidis.
Namun, lewat analisis mendalam terhadap IC 443 dan kawasan di sekitarnya, para peneliti menemukan jejak sisa supernova kedua yang diberi kode G189.6+3.3. Penyelidikan mengungkapkan bahwa baik IC 443 maupun G189.6+3.3 sama-sama menghantam awan hidrogen antarbintang yang sama. Hal ini membuktikan bahwa kedua sisa ledakan tersebut berada sangat dekat di ruang hampa udara, dengan pusat ledakan yang hanya terpisah sekitar 30 hingga 50 tahun cahaya.
Melalui kalkulasi statistik, tim ilmuwan menyimpulkan probabilitas dua sisa supernova yang tidak berhubungan bisa berada berdekatan secara tidak sengaja sangatlah tipis.
“Peluang untuk secara tidak sengaja menemukan dua sisa supernova yang tidak berhubungan pada jarak sejauh ini adalah sekitar satu banding 1.000,” ungkap Michailidis. Ia menambahkan, “Hal ini menunjukkan bahwa penemuan kami pada kenyataannya merupakan pasangan supernova dari sistem biner pertama yang diketahui.”
Berdasarkan perkiraan tim peneliti, kedua bintang induk tersebut semula memiliki ukuran raksasa dengan massa 20 kali lipat atau lebih dari massa Matahari kita. Kendati berasal dari rahim yang sama, waktu kematian keduanya terpisah puluhan ribu tahun. Bintang induk yang membentuk G189.6+3.3 berusia lebih tua dan meledak sekitar 20.000 hingga 110.000 tahun yang lalu. Sementara itu, bintang pasangannya meledak jauh belakangan dan membentuk IC 443 sekitar 8.000 hingga 9.000 tahun lalu.
Mengenai pentingnya temuan ini, Michailidis mencatat bahwa mengingat frekuensi terbentuknya bintang ganda bermassa besar di alam semesta, “Seseorang dapat mengharapkan banyak pasangan bintang masif yang keduanya akan meledak sebagai supernova. Namun, hal ini tidak pernah teramati, hingga sekarang.”
Penemuan ini menjadi pijakan penting bagi perkembangan ilmu astrofisika modern, memberikan kesempatan langka bagi para peneliti untuk mempelajari evolusi bintang masif dalam sistem ganda serta dampak dahsyat ledakan ganda tersebut terhadap lingkungan kosmik di sekitarnya. (Space/Z-2)

