
ilustrasi(Luar Biasa)
Selama ini, kesehatan mental dan kesehatan metabolik sering dipandang sebagai dua bidang yang berbeda. Gangguan seperti depresi, gangguan bipolar, dan skizofrenia umumnya ditangani secara terpisah dari penyakit metabolik, seperti diabetes, obesitas, dan kolesterol tinggi.
Namun, tinjauan ilmiah terbaru yang diterbitkan dalam Nature Mental Health menunjukkan bahwa kedua kondisi tersebut memiliki hubungan yang erat dan saling memengaruhi. Para peneliti memperkenalkan konsep metabolic psychiatry, yaitu pendekatan yang menggabungkan penanganan kesehatan mental dengan evaluasi metabolisme tubuh.
Pendekatan ini didasarkan pada bukti bahwa gangguan metabolik dapat memengaruhi fungsi otak, sementara gangguan mental juga dapat meningkatkan risiko penyakit metabolik.
Hubungan Tubuh dan Otak yang Saling Memengaruhi
Dalam ulasan tersebut dijelaskan bahwa resistensi insulin, gangguan metabolisme lemak, peradangan kronis, serta disfungsi mitokondria sering ditemukan pada pasien dengan gangguan kejiwaan. Kondisi-kondisi ini dapat mengganggu pasokan energi ke otak sehingga memengaruhi kemampuan berpikir, suasana hati, dan respons terhadap pengobatan.
Sebaliknya, stres berkepanjangan, kualitas tidur yang buruk, hingga penggunaan beberapa obat psikiatri juga dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular. Temuan ini menunjukkan bahwa kesehatan fisik dan mental tidak dapat dipisahkan dalam proses diagnosis maupun terapi.
- Resistensi insulin dan gangguan metabolisme lemak.
- Peradangan kronis dan disfungsi mitokondria.
- Efek samping obat psikiatri terhadap berat badan.
- Stres kronis yang memicu penyakit kardiovaskular.
Pendekatan Terintegrasi untuk Hasil yang Lebih Baik
Peneliti menyarankan agar pasien dengan gangguan mental menjalani pemeriksaan metabolik secara rutin, seperti kadar gula darah, profil lipid, tekanan darah, dan berat badan. Langkah ini dinilai dapat membantu mendeteksi risiko penyakit lebih dini sekaligus menentukan pengobatan yang lebih tepat.
Selain terapi psikologis dan obat-obatan, perubahan gaya hidup menjadi kunci utama. Beberapa langkah yang disarankan meliputi:
- Rutin berolahraga secara terukur.
- Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
- Menjaga kualitas dan durasi tidur yang cukup.
- Mengelola stres secara efektif.
Saat ini, beberapa terapi berbasis metabolik, seperti penggunaan metformin dan agonis GLP-1, juga sedang diteliti sebagai terapi pendamping untuk pasien gangguan jiwa. Melalui konsep metabolic psychiatry, para peneliti berharap layanan kesehatan dapat mengintegrasikan penanganan fisik dan mental sehingga kualitas hidup pasien meningkat dan risiko komplikasi penyakit kronis dapat ditekan. (E-3)



